Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
0

Kung Fu Panda 2

film kungfu panda 2 ini banyak dibintangi oleh bintang-bintang hollywood terkenal seperti aktor jack black (Po), aktor seth rogen (master mantis - voice) dan artis cantik angelina jolie (master tigress - voice). film ini diproduksi oleh dream works animation

Kalau dulu, menjadi seorang pendekar sakti hanyalah sebuah impian, kini Po (Jack Black) benar-benar menjadi seorang pendekar. Sayangnya, terwujudnya impian ini juga membawa konsekuensi bagi Po. Ia tak boleh bermalas-malasan. Ia harus berlatih keras. Dan yang lebih penting lagi, Po harus bisa melindungi rakyat kecil yang tertindas. Tapi benarkah menjadi pahlawan pelindung rakyat kecil seperti itu hanya bisa dicapai dengan belajar Kung Fu?

Setelah pertempuran seru beberapa waktu yang lalu, kini Po bersama Master Shifu (Dustin Hoffman), Master Tigress (Angelina Jolie), Master Viper (Lucy Liu), Master Monkey (Jackie Chan), Master Mantis (Seth Rogen), dan Master Crane (David Cross) bisa bernafas lega. Valley of Peace sudah kembali tenteram dan damai. Celakanya, itu tak berumur lama karena muncul kabar yang mengharuskan para pendekar sakti ini turun gunung.

Ada kabar kalau Lord Shen (Gary Oldman) ternyata memiliki sebuah senjata rahasia yang sangat berbahaya. Dengan senjata ini, sang raja berusaha menguasai seluruh negeri dan berencana menghancurkan ilmu bela diri Kung Fu. Untungnya, para pendekar sakti ini mendapat bantuan dari The SoothSayer (Michelle Yeoh), Master Skunkman (James Woods), Master Croc (Jean-Claude Van Damme), dan Master Thundering Rhino (Victor Garber). Maka mulailah perjalanan panjang para pendekar ini untuk mencari Lord Shen dan menggagalkan rencana jahat raja itu. Dan untuk itu sepertinya Po harus kembali menelusuri masa lalunya dan mencari senjata untuk melawan Lord Shen(kpl/roc)





produksi :
- DreamWorks Animation
»»  READMORE...
0

Film Drama-Thriller Black Swan: Ketika Balet Menjadi Menyeramkan


Film drama-thriller Black Swan secara gamblang menghadirkan rivalitas dua penari balet, Nina dan Lily. Namun kompetisi itu bukan persaingan keindahan gerak semata, karena hidup keduanya adalah kenyataan dari simbol baik dan buruk yang mereka perankan. 


Film drama Black Swan secara perdana diputar pada Venice Film Festival, Itali, sejak September 2010 lalu. Kemudian, sinema garapan sutradara Darren Aronofsky ini melanjutkan penjelajahannya dari festival satu ke festival lain. Sebelum direkomendasi secara khusus oleh Toronto International Film Festival, Black Swan juga mendapat kritikan positif para penonton di Telluride Film Festival, London Film Festival, Austin Film Festival, sampai Saint Louis International Film Festival. Wajar saja bila Black Swan menempati posisi puncak di Internet Movie Database (IMDB) untuk film yang siap beredar di minggu pertama Desember 2010, dengan skor akhir 8,9. Angka tentu ini mengisyaratkan jika Black Swan bukan sekadar film drama biasa.

Dalam film drama Black Swan yang berdurasi 107 menit ini, Natalie Portman dan Mila Kunis beradu peran sebagai Nina Sayers yang menjadi The Swan Queen, dan Lily yang memerankan karakter The Black Swan. Kedua artis cantik ini memerankan sisi baik dan buruk melalui peran Swan Lake dan Black Swan, sebuah komposisi balet klasik asal Rusia yang dipopulerkan Pyotr Ilyich Tchaikovsky antara 1875–1876. Sutradara pementasan Swan Lake sendiri dipercayakan Aronofsky pada aktor Perancis bermata biru, Vincent Cassel yang memerankan Thomas Leroy.

Sama-sama berbakat, Nina dan Lily menjadi artis asuhan Leroy yang menawan. Keduanya kemudian saling beradu gemulai demi menarik hati sang sutradara. Hanya karena pementasan Swan Lake membutuhkan dua penari balet yang memerankan karakter 'tak berdosa' dan 'pendosa', maka Leroy menetapkan Nina dan Lily menjalankan kedua peran tersebut. Namun, ketika sedikit demi sedikit keduanya mulai menjalin persahabatan di belakang panggung, konflik sebenarnya baru terjadi dalam film drama Black Swan. Karakter yang diperankan rupanya bukan sekadar simbol di atas panggung, karena diri asli mereka ternyata serupa dengan peran yang dibawakan.




Peran yang Maksimal
Sebagai peraih nominasi Oscar katagori pemeran pembantu wanita terbaik lewat peran "Alice" dalam "Closer" (2004), akting Natalie Portman begitu ciamik dipandang. Gadis kelahiran Israel 29 tahun lalu yang besar di AS itu benar-benar mendalami karakter Nina layaknya Anda tengah melihat kisah aslinya. Lawan mainnya pun tak kalah memukau. Mila Kunis atau Milena Markovna Kunis yang sukses memerankan "Solara" dalam The Book of Eli (2010) itu juga tampil energik sebagai 'wanita jahat'. Pentas keduanya dalam film drama Black Swan benar-benar akan membuat Anda tenggelam dalam plot kisah yang sedikit pelik, lengkap dengan beberapa kejutan sebagai thriller.

Sedang peran Vincent Cassel atau Vincent Crochon yang kita kenal sebagai penjahat smart dan elegant berjuluk "Si Rubah" dalam Ocean Twelve, seakan melengkapi rivalitas keduanya dalam film drama Black Swan. Karakter Leroy sebagai seorang seniman yang menggunakan seksualitas untuk mengarahkan para penarinya, berhasil diperankan dengan tepat. Pria bermata biru kelahiran Perancis 44 tahun lalu itu akan membuat Anda semakin menghayati kehidupan penari balet profesional dunia, berkat arahan dan nuansa yang diberikan pada Nina dan Lily.

Selain ketiganya, film drama Black Swan juga menghadirkan Barbara Hershey yang memerankan Erica Sayers, dan Winona Ryder yang memerankan Beth Macintyre (The Dying Swan). Sayangnya, jika Erica Sayers cukup mampu mengungkapkan karakter seorang mantan penari balet yang terobsesi mendorong anaknya (Nina) ke puncak prestasi, Winona hanya mampu tampil seadanya dengan bagian peran yang kecil, terutama setelah Nina dipilih Leroy menggantikannya.



The Best Scene
Menelan biaya mencapai 17 juta dolar, film drama Black Swan akhirnya diputar ke publik luas. Sebagai sinema "langganan festival", hasil garapan Aronofsky ini memang punya kelebihan dari segi cerita dan kekuatan karakternya. Anda yang menyukai sinema drama ataupun thriller tak bakal menyesal menyaksikan rangkaian kisah yang tensinya kian meninggi menjelang akhir ini. Selain itu, dukungan musiknya membuat suasana yang dibangun jadi sangat mengena dan menenggelamkan para penonton Black Swan ke dalam kisahnya. 

Di sisi lain, meski 'kebaikan selalu menang mengalahkan kejahatan', film drama Black Swan menghadirkan cara penyelesaian yang tidak lurus. Nina misalnya, mesti bergelut dengan dirinya lebih dulu, sebelum mendapatkan pilihan terbaiknya sendiri. Sedang Lily yang menjadi karakter antagonis, mengajarkan sisi jahat pada Nina sekaligus menjadi teman terbaik melepaskan diri dari kungkungan Erica. Sehingga, baru di akhir sinema Anda dapat menentukan mana jalan terbaik yang menjadi pesan moral dalm film drama Black Swan. Selamat menoton!


»»  READMORE...
0

Tron Legacy

Tron: Legacy adalah sebuah film Hollywood terbaik sekaligus terburuk. Aspek positif film ini adalah visual menakjubkan, CGI yang menarik, dan penggunaan 3D yang baik. Aspek negatifnya meliputi kohesi cerita yang buruk, durasi yang panjang, dialog kaku, dan tema yang berantakan. Anda bisa menikmati film ini untuk mengisi waktu luang tetapi anda juga akan dengan mudah melupakannya. Terlalu banyak adegan yang meminjam dari The Matrix dan Speed Racer tanpa ada perubahan yang signifikan.

Tron: Legacy - yang merupakan sebuah sekuel - dimulai dengan anak Kevin Flynn, Sam (Garret Hedlund). Sam mengalami trauma saat ayahnya menghilang, dia tidak mudah bergaul dan mempunyai dana perwalian. Perusahaan yang didirikan ayahnya, Encom, akan merilis sistem operasi baru. Lelucon yang dilakukan Sam membuat Alan (Bruce Boxleitner) menyampaikan pesan Kevin untuk Sam. Dari titik inilah kita dibawa menuju The Grid dan dunia Tron, Clu, dan Kevin Flynn (Jeff Bridges).

Film ini terlihat bagus dan mengejutkan di saat awal dengan tempo yang cukup cepat. Tetapi setelah adegan awal di The Grid, tempo menurun dramatis. Kita dikenalkan dengan karakter baru, Quorra (Olivia wilde), yang menarik tetapi kehadirannya tidak terlalu diperlukan. Dia adalah asisten Kevin dan interaksi awalnya dengan Sam terasa mengganggu dan ajaib.

Tron: Legacy adalah contoh film yang momentumnya didapat dari dialog yang bersifat menerangkan. Terlalu banyak yang dijelaskan dengan dialog yang gamblang dan bukannya melalui bahasa gambar. Banyak juga momen yang dijelaskan secara berlebihan atau malah tidak sama sekali. Adegan-adegan futuristiknya digarap secara maksimal tetapi tidak demikian halnya dengan segi cerita.

Pada akhirnya film ini tidak lebih dari sebuah film eskapis bagi penontonnya. Garret Hedlund sudah melakukan yang terbaik dengan materi yang diberikan tetapi reuni karakternya dengan sang ayah terasa terburu-buru dan dipaksakan. Tron: Legacy hanya memanjakan secara visual. Jangan berharap lebih...

Sutradara : Joseph Kosinski
Skenario : Edward Kitsis, Adam Horowitz, Brian Klugman, Lee Sternthal
Pemain : Garret Hedlund, Bruce Boxleitner, Jeff Bridges, Olivia wilde
»»  READMORE...
Cute Kiwi

ShoutMix chat widget
Back to Top